
PESANTREN IBNU SYAM – Pada hari Ahad, tanggal 6 Juli 2025, alhamdulillah santri baru tahun ajaran 2025-2026 datang ke Pesantren Ibnu Syam. Setelah mengikuti alur kedatangan, para wali santri baru wajib mengikuti acara Forum Wali Santri di aula putra Pesantren Ibnu Syam 2.
Di acara ini terdapat informasi terkait SOP di Pesantren dari para manajer. Selain itu, ada juga motivasi dan pesan yang disampaikan oleh Dr. KH. Ahmad Slamet Ibnu Syam kepada semuanya, khususnya untuk wali santri.
Pesan Dr. KH. SlametPerjalanan dari rumah ke pesantren untuk menuntut ilmu insya Allah setiap langkah kaki kanannya menjadi hasanat (kebaikan) dan langkah kaki kirinya menghapus sayyiat (dosa). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًايَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا,سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ
Artinya: “Barang siapa menempuh satu jalan (cara) untuk mendapatkan ilmu, maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga,” (HR Muslim).
Saat kedua orang tua memondokkan anaknya ke pesantren, maka makna menempuh jalan untuk menuntut ilmu di hadits ini berlaku bukan hanya kepada anaknya saja, tapi bapak ibunya juga menempuh jalan tersebut, yaitu mendapatkan keutamaan dimudahkan baginya menuju jalan ke surga.
Ketika menuntut ilmu atau memondokkan anak ke pesantren, penting untuk meluruskan niat, yaitu ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala. Jika niatnya salah, maka hasilnya tidak baik. Banyak penghafal Qur’an yang salah niatnya, kemudian kehidupannya tidak mencerminkan Alquran.
Disebutkan juga bahwa banyak penghafal quran yang hafalannya hanya sampai tenggorokan saja, ini salah satu faktornya adalah salah niat. Misalnya niat mau masukkin anaknya ke pesantren tahfizh agar menang lomba MTQ, atau karena pesantrennya viral, atau karena mau selfi sama Ustadzah Nabilah. Niat seperti itu yang salah.
Ibnu Ath Thailah Assakandari dalam kitab Al-Hikam mengatakan:
اِدْفِنْ وُجُودَكَ فيِ أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَـبَتَ مِمَّالَمْ يُدْفَنْ لاَ يَــتِمُّ نَـتَاءِجُهُ
Artinya: “Kuburlah wujudmu (eksistensimu) di dalam bumi kerendahan (ketiadaan); maka segala yang tumbuh namun tidak ditanam (dengan baik) tidak akan sempurna buahnya.”
Maksud dari kalimat tersebut adalah kita dianjurkan untuk berhati-hati dalam ketenaran, jangan sampai ada rasa ingin terpandang.
Jika mau mendapatkan ridho Allah subhanahu wa ta’ala, maka benerin niatnya. Jika sudah lillah, semisal ada ujian atau ada kekurangan, tidak langsung mengeluh, karena ia tahu jalan menuju Allah subhanahu wa ta’ala pasti banyak rintangannya, entah ujian dari orang tuanya maupun anaknya.
Seorang santri maupun wali santrinya harus siap, harus ikhlas agar menggapai ridho Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga nanti masalah apapun akan enteng.
Jika ingin anaknya betah di pondok, jangan sering dijenguk. Biarkan dia membaur dengan temannya, kemudian belajar memanajemen konflik. Di pesantren itu tempat mendidik calon orang hebat di masa depan. Kalo dimanja terus, mentalnya enggak bakal kuat untuk menjadi pemimpin. Boleh sesekali memberikan sesuatu untuk memenuhi haknya, tapi jangan terlalu memanjakan anak.
Kesuksesan anak bukan hanya dari usaha para manajer di pesantren, melainkan juga dukungan dan kerja sama dari orang tuanya.
Kita di sini adalah orang-orang pilihan Allah subhanahu wa ta’ala. Sesuai penjelasan dalam Alquran surat Fatir ayat 32:
ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَاۚ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖۚ وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌۚ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُۗ ٣٢
Artinya: “Kemudian, Kitab Suci itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu, di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Itulah (dianugerahkannya kitab suci adalah) karunia yang besar.”
Orang-orang yang zalim kepada diri sendiri yaitu mereka lebih banyak berbuat salah daripada berbuat baik. Contoh yaitu di antaranya: menjadi penghafal Qur’an tapi sholatnya bolong-bolong, anaknya menghafal Qur’an, tapi bapak ibunya jarang baca Qur’an, atau anaknya dengerinnya sholawat, bapak ibunya dengerin dangdutan.
Jika kita mau naik level, orang tua harus berubah habitsnya, agar satu frekuensi dengan anaknya. Ini upaya orang tua demi anaknya agar dimudahkan mencapai kesuksesan.
Sedikit cerita, dulu waktu saya belajar, ibu saya rajin puasa Senin Kamis, sholat sunnah dhuha dan tahajud tidak pernah lepas. Karena kesuksesan anak itu tergantung kesuksesan hubungan antara kedua orang tuanya dengan Allah subhanahu wa ta’ala.
Orang-orang yang berada di posisi ini yaitu orang yang kebaikannya setara dengan keburukannya. Mereka mengerjakan amalan wajib-wajibnya saja, tetapi maksiat juga masih ada yang mereka kerjakan.
Mereka itu adalah orang-orang yang berlomba berbuat kebajikan, sehingga kebaikannya sangat banyak dan amat sedikit jarang berbuat salah. Tidak cukup mengerjakan amalan wajib, tapi yang sunnahnya juga.
1. Pembina Yayasan atau Komisaris : Hj. Suherawati Aziz. Ibunda KH. Ahmad Slamet Ibnu Syam. Setelah ayahnya KH. Ibnu Syam yang telah wafat tahun 2020.
2. Direktur Utama atau Pimpinan Umum : Dr. KH. Ahmad Slamet Ibnu Syam, Lc., MA. Lulusan Pesantren Daar el Qolam Tangerang. S1 di Damaskus-Syam. Karena sanad keilmuannya dari Negeri Syam, maka nama pesantrennya Pesantren Ibnu Syam. S2 di Lebanon-Beirut. S3 nya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Wakil Direktur Utama : Ustadzah Nabilah Abdul Rahim Bayan, Lc., M.Ag. S1 nya di Ummul Qurro Mekkah, S2 Institut Ilmu Qur’an Jakarta.
4. Direktur Pendidikan : Ustadz Musafak, S.Hum. Guru pertama di Pesantren Ibnu Syam, sejak mulai 8 santri. Lulusan Sastra Arab. Tapi ahli di bidang Matematika.
5. Direktur Operasional : Ustadz Ahmad Ilham Syaifulloh, S.Sos.
1. Manajer Kepengasuhan PIS 1 : Ustadzah Dewi Inas Azhar Taqiyah
2. Manajer Kepengasuhan PIS 2 Putri : Ustadzah Hadina Izni, S.Pd. Jurusan Sastra Inggris.
3. Manajer Kepengasuhan PIS 2 Putra : Ustadz Yudid Tira Edmansyah, S.Ag.
4. Manajer Tahfizh : Ustadz Bintang Damar Azhari, S.Pd. Sanad Alquran nya dari Syekh Al-Kannas, di Negeri Syam. Lulusan STAI Imam Syafi’i, rektornya Syaikh Hasan Hitou. Gurunya KH. Slamet di Syam. Penulis kitab Fiqih terlengkap di dunia, ada 160 jilid. 1 Jilidnya 500 halaman.
5. Manajer Litbang & Pendidikan Menengah : Ustadz Dr. Achmad Saeful, MA.
6. Manajer Pendidikan Dasar : Ustadzah Depi Hasusi, S.Pd.
7. Manajer HRD & ITC : Ustadz Ahmad Ilham Syaifulloh, S.Sos
8. Manajer Kesekretariatan : Ustadz Muhammad Isra Rafid, SH. Alumnus Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
9. Manajer Keuangan & Bisnis : Ustadz Muhammad Miraj Rafif, SE. Alumnus cumlaude dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
10. Manajer Aset, Kerumahtanggaan, Infrastruktur : Ustadz Renaldi Aji Ilham, S.Ars
|| BACA JUGA : Tepat Waktu: Kecil di Mata, Besar di Dampak
Syekh Abdullah Al Najjar, asal Syiria, pakar Qur’an dan sanad, yaitu sanad qiroat 10 dari jalur ulama besar Negeri Syam. Beliau yang mencoaching para guru dan santri di Pesantren Ibnu Syam dalam urusan tahsin, tahfizh Qur’an, dan bahasa Arab.
Dr. Najamudin, M.A, beliau S2 dan S3 nya di Birmingham-Inggris. Beliau seorang dosen dan konsultan, di samping kesibukannya tersebut, beliau juga mencoaching para SDM dan santri Pesantren Ibnu Syam belajar bahasa Inggris.
Tujuh karakter insan Ibnu Syam ini harus dimiliki oleh semua lulusan Pesantren Ibnu Syam. Ketujuh karakter tersebut di antaranya:
1. Berakhlaqul karimah
2. Hafizh Al-Qur’an yang fasih dan rasikh
3. Hafal hadits-hadits pilihan
4. Mahir membaca kitab kuning
5. Mahir berbahasa arab dan inggris
6. Mampu memimpin kegiatan sosial dan Keagamaan
7. Berwawasan global
Di Pesantren Ibnu Syam, bukan hanya anak-anaknya saja yang ngafal Qur’an, tapi orang tuanya juga ikut menghafal. Anak-anaknya belajar bahasa Arab dan Inggris, orang tuanya juga harus mahir bahasa Arab dan Inggris.
Wallohu A’lam
Oleh Dewi Anggraeni / Tim Media Pesantren Ibnu Syam
Editor Muhammad Isra Rafid, S.H
Leave a Comment