
PESANTREN IBNU SYAM – Pada hari Ahad, 17 Agustus 2025, Pesantren Ibnu Syam melaksanakan kegiatan upacara dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke 80 Republik Indonesia dan Milad ke 7 Pesantren Ibnu Syam (5 Agustus 2018-5 Agustus 2025).
Rangkaian upacara ini terdapat pesan dan motivasi dari pimpinan pesantren serta Syekh Mu’taz As-Subaini, yaitu berikut:
Kyai mengingatkan, bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan bangsa asing, tetapi juga terbebas dari perbudakan hawa nafsu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِتَّقِ اَلْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ
Artinya: “jauhilah yang haram, maka kalian akan menjadi hamba Allah yang paling utama dan yang paling mulia,” (HR Tirmidzi).
Pesan tersirat dari hadits tersebut yaitu, meski bangsa Indonesia sudah merdeka secara politik, namun bila masyarakat masih terjerat kemalasan, cinta dunia, korupsi, dan maksiat, maka hakikatnya belum merdeka.
Mengisi kemerdekaan berarti berjuang melawan hawa nafsu, menjaga diri dari yang haram, serta membangun peradaban menuju kejayaan dunia dan akhirat.
Syekh menegaskan pentingnya belajar dari sejarah bangsa Melayu. Bangsa Melayu pernah berada pada puncak kejayaan. Negeri ini kaya raya, tidak hanya emas dan rempah-rempah, tetapi juga ilmu pengetahuan. Manuskrip-manuskrip hukum syariah, kedokteran, sastra, hingga ilmu falak ditulis dengan tinta emas dan safron.
Hubungan dagang dengan bangsa Arab sudah terjalin sejak lama, bahkan sebelum masuknya Islam. Setelah Islam datang pada masa Khulafaur Rasyidin, dakwah Islam berkembangnya melalui para pedagang dan ulama. Negeri Melayu kala itu benar-benar mencerminkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang makmur dan penuh keberkahan).
Sayangnya, kejayaan itu runtuh ketika bangsa Eropa datang. Portugal pertama kali menjajah, disusul Belanda yang menguasai wilayah dan merampas manuskrip berharga. Hingga kini, karya-karya agung Melayu masih tersimpan di perpustakaan-perpustakaan Eropa.
Inggris bahkan memecah negeri Melayu dengan politik divide et impera, hingga akhirnya rumpun Melayu tercerai-berai menjadi Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Patani, sebagian Thailand, dan Vietnam.
|| BACA JUGA : Tidak Ada Kemerdekaan Tanpa Pengorbanan: Pesan Pimpinan Pesantren Ibnu Syam KH. Ahmad Slamet Ibnu Syam dalam HUT RI Ke-78
Perpecahan itu melemahkan kekuatan Melayu hingga hari ini. Syekh menekankan, seandainya rumpun Melayu tetap bersatu dengan Indonesia sebagai pusatnya, maka bangsa ini akan menjadi kekuatan politik, ekonomi, dan budaya besar di Asia, yang dapat menyaingi India dan Tiongkok. Namun, perpecahan itu dimanfaatkan Barat untuk melemahkan umat dan menghadirkan kemiskinan.
Sejarah ini mengajarkan bahwa penjajahan tidak hanya merampas harta, tetapi juga memecah persatuan umat. Maka, bangsa Indonesia perlu menjaga kemerdekaan dengan menegakkan persatuan, mengembangkan ilmu, dan menguatkan iman agar kembali berjaya di mata dunia.
Kemerdekaan bukan hanya soal lepas dari penjajahan asing. Lebih dari itu, ia adalah perjuangan membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu serta menjaga warisan peradaban bangsa. Oleh karena itu, kemerdekaan Indonesia hari ini harus dimaknai sebagai kebangkitan. Kita perlu meneladani perjuangan nenek moyang yang rela berkorban jiwa dan raga, sekaligus menjaga kemerdekaan batin dengan meninggalkan maksiat dan hawa nafsu.
Dengan persatuan, keimanan, dan penguasaan ilmu, bangsa Indonesia bukan hanya akan mulia di mata dunia, tetapi juga di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Wallohu A’lam
Oleh Dewi Anggraeni / Tim Media Pesantren Ibnu Syam
Editor Muhammad Isra, S.H
Leave a Comment