
PESANTREN IBNU SYAM – Tradisi pengambilan ijazah dalam dunia Islam memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan sanad ilmu dari generasi ke generasi. Hal ini tampak jelas dalam pengalaman Syekh Mu’taz As-Subaini yang mendapatkan ijazah Kitab Arba’in Buldaniyah dan al Jawahir al Kalamiyah, dari gurunya Syekh Yasin Padang, ulama besar asal Indonesia yang menjadi rujukan penting dunia Islam.
Syekh Yasin Padang adalah salah satu ulama Nusantara yang kiprahnya mendunia. Beliau tidak hanya dikenal sebagai ahli fikih, tetapi juga sebagai ulama hadits yang memiliki sanad luas. Banyak murid dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia, belajar kepada beliau dan memperoleh ijazah hadits maupun ilmu lainnya. Dari beliau pula Syekh Mu’taz As-Subaini mendapatkan ijazah Kitab Arba’in Buldaniyah dan al Jawahir al Kalamiyah dari Syekh Yasin Padang.
Syekh Yasin Padang meskipun lahir di Mekkah dan menjadi warga negara Saudi Arabia, beliau tidak pernah melupakan tanah asalnya, Indonesia. Kecintaan itu beliau buktikan dengan mengabadikan nama-nama ulama nusantara dalam sanad hadits yang beliau riwayatkan, sehingga jasa para ulama Indonesia tetap hidup dan dikenal dalam tradisi keilmuan Islam.
Berisi 40 hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pilihan.
Diriwayatkan dari 40 guru (masyayikh).
Berasal dari 40 negeri yang berbeda.
Itulah alasannya kitab tersebut dinamakan kitab Arba’in Buldaniyah. Kitab ini bukan sekadar koleksi hadits, melainkan juga sarana untuk melestarikan sanad periwayatan yang bersambung hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dengan mempelajari dan meriwayatkan kitab ini, seorang penuntut ilmu ikut serta menjaga kesinambungan mata rantai ilmu hadits.
Tradisi pemberian ijazah hadits seperti Arba’in Buldaniyah memiliki makna yang dalam. Pertama, ia menegaskan pentingnya menjaga sanad ilmu, sehingga periwayatan tidak terputus dan tetap terjamin keasliannya. Kedua, ia mendidik murid untuk menghargai adab talaqqi, yakni belajar langsung kepada guru dengan penuh kesungguhan.
Syekh Mu’taz As-Subaini dalam ceramahnya menekankan bahwa ijazah bukan sekadar formalitas. Ia adalah amanah yang harus dijaga. Seorang murid yang mendapat ijazah berarti memikul tanggung jawab untuk menyampaikan ilmu secara benar kepada orang lain. Dengan demikian, sanad keilmuan tetap hidup dan terpelihara sepanjang zaman.
Melalui sanad yang beliau terima dari Syekh Yasin Padang, Syekh Mu’taz As-Subaini kini menjadi salah satu penerus sanad Arba’in Buldaniyah. Hal ini menunjukkan betapa besar kontribusi ulama Nusantara di panggung internasional, sekaligus menjadi kebanggaan bahwa ilmu yang kita pelajari hari ini sebagian besar bersumber dari jaringan ulama besar di masa lalu.
Tradisi ijazah seperti ini sepatutnya terus dilestarikan, terutama di tengah arus modernisasi yang seringkali mengedepankan kecepatan, namun melupakan pentingnya sanad. Dengan ijazah, seorang penuntut ilmu tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga keberkahan dari sanad ulama dan kedekatan spiritual dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
ثَلاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاوَةَ الإِيمَانِ: مَنْ يَكُونِ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْيُّقْذَفَ الرَّجٌلُ فِي النَّارِ
Artinya: “Ada tiga hal, barangsiapa yang memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan RasulNya lebih dicintai daripada selain keduanya, dan jika ia dilemparkan ke dalam api neraka lebih ia cintai daripada kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, dan mencintai seseorang hanya karena Allah, atau dia berkata: ‘karena Allah SWT”
Artinya: “Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya maka ia akan merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. (2) Ia mencintai seseorang, tidak mencintainya kecuali karena Allah. (3) Ia benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya darinya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka,” (HR Bukharī dan Muslim).
Syekh mengatakan: “Seandainya kita berada di penghujung bumi, kemudian kita bersholawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sholawat yang kita bacakan tersebut akan sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.”
Sholawat itu hanya sekejap saja langsung sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Adat para muhadits, sebelum meriwayatkan hadits-hadits lain, mereka meriwayatkan hadits musalsal bil awwaliyah dulu, yaitu hadits tentang rahmat dan kasih sayang. Salah satunya hadits berikut ini:
رَحِمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُم مَنْ فِي السَّمَاءِ
Artinya: “Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang ada di langit,” (HR Tirmidzi).
Kitab ini merupakan salah satu karya penting dalam bidang ilmu aqidah (tauhid) yang banyak dipelajari di pesantren. Isinya membahas pokok-pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, terutama tentang sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala, sifat para rasul, dan prinsip dasar iman.
Dalam ceramah dijelaskan bahwa aqidah adalah fondasi utama seorang muslim. Semua amal ibadah, baik sholat, puasa, zakat, maupun haji, tidak akan bernilai, jika aqidahnya rusak. Oleh karena itu, memahami tauhid yang benar menjadi prioritas sebelum mendalami ilmu-ilmu lain.
Kitab ini menekankan pentingnya mengenal Allah subhanahu wa ta’ala melalui sifat-sifat-Nya yang wajib, mustahil, dan jaiz. Demikian juga dengan para nabi dan rasul: seorang muslim wajib mengetahui sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi para rasul. Dengan pemahaman ini, iman seorang muslim menjadi lebih kokoh.
Di dalam kitab al Jawahir al Kalamiyyah disebutkan, bahwa Nabi adalah seseorang yang diberi wahyu berupa syariat, meskipun tidak diperintahkan untuk menyampaikannya. Adapun jika ia diperintahkan untuk menyampaikannya, maka dia disebut Rasul. Jadi setiap Rasul adalah Nabi dan tidak setiap Nabi adalah Rasul.
Menurut Syekh Muhammad Mu’taz As Subaini definisi ini adalah salah, karena kalau begitu, apa faidah dari pengutusan seorang Nabi? Definisi yang benar adalah Nabi itu seseorang yang diberi wahyu berupa syariat dan diperintahkan untuk mengikuti syariat nabi sebelumnya, jadi diutusnya seorang Nabi adalah untuk menunjukkan ketetapan syariat sebelumnya, sedangkan Rasul adalah seorang Nabi yang diutus dengan wahyu berupa syariat dan menghapus syariat sebelumnya.
Walaupun termasuk kitab ilmu kalam, penyusun kitab al-Jawahir al-Kalamiyah menyampaikannya dengan bahasa ringkas dan mudah dipahami. Inilah sebabnya kitab ini banyak diajarkan di tingkat dasar hingga menengah di pesantren.
|| BACA JUGA : Motivasi saat Milad ke-6 dan Khutbatul Iftitah Pesantren Ibnu Syam
Ceramah menegaskan bahwa santri maupun umat Islam pada umumnya perlu mempelajari kitab-kitab aqidah sejak dini. Hal ini agar mereka memiliki pegangan iman yang benar di tengah berbagai tantangan zaman dan pengaruh pemikiran yang bisa menyesatkan.
Kajian ditutup dengan doa agar Allah subhanahu wa ta’ala menjaga iman, melapangkan hati dalam menerima kebenaran, dan menjadikan para penuntut ilmu sebagai generasi penerus yang membawa cahaya aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Wallohu A’lam
Oleh Dewi Anggraeni / Tim Media Pesantren Ibnu Syam
Editor Muhammad Isra Rafid, S.H
Leave a Comment