Wednesday, 10 Dec 2025
  • Disinilah lahirnya para penghafal al-Qur'an yang fasih & rasikh
  • Disinilah lahirnya para penghafal al-Qur'an yang fasih & rasikh

Menjadi Pemuda Pembawa Peradaban: Inilah 3 Caranya

Kyai Slamet dan Koh Dennis Lim

PESANTREN IBNU SYAMPada hari Senin, 24 November 2025, Pesantren Ibnu Syam kedatangan tamu spesial yaitu Ustadz Koh Dennis Lim seorang da’i muda nasional. Pada kesempatan kali ini dihadiri oleh pimpinan umum Pesantren Ibnu Syam, Dr. KH. Ahmad Slamet Ibnu Syam, Lc., M.A.

Kiai Slamet membuka sambutan dengan doa dan pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta sholawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Beliau menyampaikan rasa syukur atas kedatangan tamu mulia, Koh Dennis Lim, dan mengucapkan terima kasih karena di tengah kesibukannya masih berkenan hadir ke Pesantren Ibnu Syam.

Kiai menekankan bahwa kehadiran beliau bukan sekadar mampir, tetapi benar-benar memberi keberkahan bagi pesantren. Kemudian, ia juga memohon maaf jika penyambutan atau hidangan kurang berkenan.

Beliau berpesan kepada seluruh santri agar menyimak motivasi dan nasihat dari Koh Dennis untuk para santri khususnya.

“Perhatikan, dengarkan, buka hatinya, catat baik-baik apa yang beliau sampaikan, insya Allah bermanfaat buat dunia dan akhirat kalian.” Ucap Pimpinan dengan tegas.

Koh Dennis Lim

Pemuda, Ilmu, dan Ketulusan: Fondasi Peradaban yang Kembali Dibangun

Pertemuan dengan para pemuda selalu menghadirkan harapan. Sejarah mencatat, banyak perubahan besar dalam Islam justru lahir dari tangan anak-anak muda. Bahkan dari sepuluh sahabat yang dijamin surga, tujuh di antaranya wafat sebelum berusia 30 tahun, dan lima di bawah usia 20. Mereka adalah bukti bahwa kedewasaan tidak diukur dari umur, tetapi dari kesungguhan hati.

Ilmu Harus Dibawa dengan Kasih Sayang

Ilmu adalah kunci dakwah, namun kejernihan hati tidak kalah penting. Kisah yang diriwayatkan dari Sayyidina Umar bin Khattab menggambarkan hal itu. Ketika seorang calon gubernur dianggap tidak mampu menunjukkan kasih sayang kepada anak-anaknya sendiri, Umar menolaknya. “Jika kepada darah dagingmu saja engkau tak mampu berkasih sayang, bagaimana engkau akan menyayangi umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam?”

Ilmu tanpa kelembutan tidak akan menyentuh hati. Seperti seseorang yang mengutip ayat Al-Qur’an di lampu merah sambil membentak, kata-katanya benar, tetapi caranya salah. Tanpa kasih sayang, kebenaran bisa berubah menjadi permusuhan.

Tidak Semua Orang Seberuntung Kita

Di luar sana, banyak orang yang hidup dalam lingkungan keras: korban kekerasan, kecanduan, hingga keluarga yang jauh dari agama. Mereka ingin memperbaiki diri, tetapi sering justru disambut dengan cacian. Akibatnya, sebagian lari ke tempat maksiat yang justru memperlakukan mereka lebih ramah dibanding orang berilmu. Ketika ini terjadi, khawatir bukan hanya kepada sikap kita yang tidak mereka sukai, tetapi juga citra Islam yang turut tercoreng.

Karena itu, dakwah harus lahir dari empati, bukan penghakiman. Kita beruntung memiliki lingkungan yang menuntun pada kebaikan; maka tugas kita adalah mempermudah orang lain menemukan jalan yang sama.

Niat: Fondasi Diterimanya Ibadah

Imam Al-Qurtubi menjelaskan pentingnya menjaga kemurnian niat melalui tiga contoh:

  1. Berwudu hanya karena panas.

  2. Puasa untuk kesehatan atau sixpack.

  3. Imam yang melama-lamakan rukuk hanya agar makmum tidak ketinggalan rakaat.

Semua itu adalah ibadah yang dilakukan dengan niat selain Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga dinilai tidak cukup untuk diterima amal ibadahnya. Ibadah harus murni, sebagaimana Al-Qur’an memerintahkan kita beribadah dengan ikhlas. Kita tidak mau minum susu walau hanya dicampur setetes kotoran; begitu pula ibadah, tidak layak dicampuri dengan ambisi dunia.

Ilmu yang Mengubah Diri, Bukan Menghakimi

Tanda ilmu bermanfaat adalah ketika ia mendekatkan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bukan membuat kita lihai menyalahkan orang lain. Jika setelah mengaji seseorang menjadi hobi mengkafirkan, menggurui, atau merendahkan orang lain, berarti ia keliru memahami tujuan ilmu.

Ilmu seharusnya membuat seseorang lebih mampu melihat kekurangan diri, bukan kekurangan orang lain. Dakwah terbaik adalah yang disampaikan dengan duduk berdua, bicara lembut, dan benar-benar ingin membantu.

Zakat, Kepedulian, dan Peradaban Islam

Zakat bukan sekadar ritual, tapi sarana membangun masyarakat. Di masa Umar bin Abdul Aziz, dana zakat begitu melimpah hingga tidak ditemukan lagi orang yang berhak menerimanya. Ia kemudian menggunakannya untuk membantu orang berhaji dan menikah, hingga akhirnya untuk memberi makan burung-burung di pegunungan agar semua makhluk merasakan sejahtera di negeri Islam.

Konsep kepedulian ini juga terlihat dalam “Bimaristan”, rumah sakit Islam klasik yang memberikan layanan gratis, pakaian baru, dan uang kompensasi. Semua tercipta karena kekuatan ilmu, keikhlasan, dan pengelolaan harta yang benar.

Pemuda dan Identitas yang Benar

Al-Qur’an sering menyebut “pemuda”, namun tidak selalu menyebutkan nama mereka. Hal ini mengajarkan bahwa yang penting bukan ketenaran. Koh Dennis mengatakan, Perkenalkan diri kalian dengan ilmu, takwa, dan prestasi.”

Jika pemuda ingin memperkenalkan diri, lakukan dengan ilmu dan amal nyata, bukan dengan pencitraan.

Ilmu adalah harta yang tidak bisa dicuri, dan justru semakin bertambah serta membawa keberkahan ketika dibagikan. Berbeda dengan uang: setiap kali dikeluarkan untuk sedekah, jumlahnya tampak berkurang, dari seratus ribu menjadi lima puluh ribu, meski pada akhirnya Allah subhanahu wa ta‘ala akan menggantinya. Namun ilmu, ketika diajarkan kepada orang lain, tidak membuat ilmu itu hilang dari diri kita. Ia tetap melekat, bahkan bertambah kuat dan meluas manfaatnya.

Galau yang Benar: Galau Karena Umat

Pemuda boleh galau, tetapi galau yang tepat: galau karena Baitul Maqdis masih dijajah, galau karena ilmu belum cukup, galau karena ingin berkontribusi lebih besar. Galau yang mendorong untuk belajar, bekerja, dan memperbaiki diri.

|| BACA JUGA :Merdeka Sejati: Bebas dari Hawa Nafsu dan Menjaga Warisan Melayu

Penutup: Ilmu yang Membahagiakan Orang Lain

Ibadah baik, ilmu baik, amal baik, semuanya kembali kepada diri kita. Namun Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan jalan lain: letakkan kebahagiaan di hati sesama. Peradaban besar dibangun bukan hanya oleh orang berilmu, tetapi oleh orang yang ikhlas, berkasih sayang, dan memikul masalah umat bersama-sama.

Semoga para pemuda hari ini menjadi mata air perubahan, sebagaimana para pemuda di masa lalu yang mengubah dunia. Bismillahirrahmanirrahim, semoga Allah subhanahu wa ta‘ala menjaga langkah kita menuju peradaban yang bercahaya, peradaban yang dibangun oleh ilmu, ketulusan, dan kasih sayang.

Wallohu A’lam

Oleh Dewi Anggraeni / Tim Media Pesantren Ibnu Syam 
Editor Ustadz Muhammad Isra Rafid, S.H

This article have

0 Comment

Leave a Comment