Tuesday, 03 Mar 2026
  • Disinilah lahirnya para penghafal al-Qur'an yang fasih & rasikh
  • Disinilah lahirnya para penghafal al-Qur'an yang fasih & rasikh

Syekh Yasir Al-‘Adni: Menuntut Ilmu, Jalan Menuju Pengenalan dan Cinta kepada Allah

Syekh Yasir Al-'Adni Menuntut Ilmu, Jalan Menuju Pengenalan dan Cinta kepada Allah

PESANTREN IBNU SYAM Pada hari Sabtu, 2 Agustus 2025, di Pesantren Ibnu Syam II kedatangan Syekh Dr. Yasir Al-‘Adni Salim As-Syahiri dari Yaman. Pada kesempatan kali ini beliau memberikan pesan dan motivasinya kepada seluruh jamaah yang hadir. Sebagaimana berikut ini:

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاء

Artinya: “Para penyayang akan disayangi oleh ar-Rahmaan (Allah). Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian.”
(HR Tirmidzi).

Ucapan tersebut mengandung pelajaran besar, bahwa kasih sayang adalah pintu turunnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Kemudian, jalan kasih sayang itu dimulai dari mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan semesta alam.

Tujuan Hidup Manusia: Menyembah dan Mengenal Allah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Alquran surat Adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Para ulama seperti Imam Ahmad Zaini Dahlan dan Syekh Abdullah Sirajuddin menjelaskan bahwa, “beribadah” dalam ayat ini bermakna “mengenal Allah subhanahu wa ta’ala”. Artinya, tujuan utama hidup manusia bukan sekadar menjalankan ritual, melainkan sampai pada tingkat ma’rifah (mengenal Allah dengan hati dan akal).

Namun, untuk mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, umat Islam memerlukan jalan yang benar, dan jalan itu hanya bisa ditempuh melalui menuntut ilmu, terutama ilmu agama yang bersambung sanadnya kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Menuntut Ilmu: Jalan Terpendek Menuju Allah

Para ulama ahlus sunnah wal jamaah menegaskan bahwa kewajiban pertama seorang muslim adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala dengan yakin. Kemudian, cara untuk mengenal-Nya adalah dengan menuntut ilmu. Ilmu bukanlah tujuan akhir, melainkan perantara untuk mengenal Allah subhanahu wa ta’ala dan mengabdi kepada-Nya.

Syekh Yasir menyampaikan bahwa: “Menuntut ilmu adalah amal tertinggi dan petunjuk jalan menuju kemuliaan.”

Akan tetapi ilmu yang dimaksud bukan hanya hafalan dan teori seperti yang banyak diajarkan di sekolah modern. Ilmu yang dimuliakan adalah ilmu yang bersanad, yang diwariskan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melalui para ulama, serta dapat mendidik akhlak dan hati.

3 Pilar Agama

Islam dibangun di atas tiga pilar:

  1. Islam: Amal perbuatan lahir (seperti sholat dan zakat).

  2. Iman: Keyakinan batin dan akal.

  3. Ihsan: Pensucian jiwa dan akhlak.

Tanpa ketiganya, agama tidak sempurna. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR Al-Baihaqi).

Itulah sebabnya, pendidikan dalam Islam dimulai dengan tazkiyah (pensucian jiwa), lalu dilanjutkan dengan pembelajaran Alquran dan hikmah. Adab mendahului ilmu. Akhlak menjadi buah utama dari setiap ajaran Islam, mulai dari sholat yang mencegah keji dan mungkar, zakat yang membersihkan jiwa dari kikir, hingga puasa dan haji yang menyucikan jiwa.

Media untuk Menuntut Ilmu

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan hamba-Nya dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Tapi Dia bekali kita dengan pendengaran, penglihatan, dan hati, sebagai alat belajar untuk mencapai tujuan hidup, yaitu mengenal dan menyembah-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Alquran surat Al-Isra ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Artinya: “Dan jangan kamu ikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”

Pendengaran, penglihatan, dan hati adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat. Maka wajib bagi setiap muslim menjaga:

  • Pendengaran dari ghibah, namimah, dan perkataan yang tidak bermanfaat;

  • Penglihatan dari hal-hal yang diharamkan, karena pandangan yang haram dapat merusak hati.

Teruslah menuntut ilmu dengan niat untuk mengenal Allah subhanahu wa ta’ala. Karena itu adalah jalan keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan dunia-akhirat.

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata:

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Artinya: “Aku pernah mengadukan kepada Imam Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.”

Sanad Keilmuan dan Ijazah

Dalam kesempatan ini, Syekh menyampaikan berbagai sanad (mata rantai transmisi) ilmu dan tarekat yang dimilikinya, di antaranya:

  • Sanad tasawuf, yang bersambung dari para masyayikh tarekat hingga ke Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam melalui sayyidina Ali bin Abi Thalib.

  • Sanad fikih Mazhab Syafi’i, melalui ulama besar seperti Imam Ibn Hajar, Imam Ramli, Imam Mahalli, hingga Imam Asy-Syafi’i, bersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

  • Sanad akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, melalui Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, yang juga berujung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

  • Hadis-hadis Musalsal, seperti:

– Musalsal bil Awwaliyyah: Hadis pertama yang diriwayatkan setiap guru kepada muridnya.
– Musalsal bil Mahabbah: Hadis cinta karena Allah subhanahu wa ta’ala. Misalnya, sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Muadz bin Jabal:

يَا مُعَاذُ ! وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، فَقَالَ : أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Artinya: “’Hai Muadz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu.’ Setelah mengatakan demikian, Rasulullah bersabda kembali, ‘Aku berpesan kepadamu, wahai Muadz: Jangan sampai kamu meninggalkan setiap selesai melaksanakan sholat supaya membaca:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Artinya: “Ya Allah, semoga Engkau memberi pertolongan kepada kami untuk bisa selalu ingat (dzikir) kepada-Mu, syukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu’.”

Disampaikan pula bahwa simbol-simbol keilmuan dan tasawuf seperti sorban, syal, dan jabat tangan dzikir juga memiliki sanad tersendiri dari para guru beliau.

|| BACA JUGA : Syeikh Muhammad Yasir Al-Burhani: Tingkatan Para Wali Allah

Ijazah Umum

Pada penutupan, Syekh mengijazahkan seluruh sanad dan keilmuan yang dimilikinya kepada semua hadirin, baik dalam bentuk ilmu, sanad hadis, fiqih, tasawuf, dzikir, serta semua amalan yang mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Para hadirin menerima ijazah tersebut dengan mengucapkan:

“Qabilna al-Ijazah,” (Kami menerima ijazah ini).

Syekh menyatakan bahwa seluruh sanad tersebut telah terkumpul dalam kitab-kitab beliau, sebagai warisan ilmiah dan spiritual dari para ulama terdahulu.

Penutup: Cahaya Ilmu, Nur Hidayah

Majelis ini mengingatkan kita bahwa agama ini adalah cahaya, dan ilmu adalah lentera penerangnya. Maka siapapun yang ingin hidupnya berkah, hatinya lapang, dan amalnya diterima, tempuhlah jalan ilmu yang bersanad dan berakhlak.

Semoga kita semua termasuk dalam barisan orang-orang yang dikasihi Ar-Rahman karena membawa kasih sayang, ilmu, dan akhlak mulia ke tengah umat, aamiin.

Wallohu A’lam

Oleh Dewi Anggraeni / Tim Media Pesantren Ibnu Syam
Editor Muhammad Isra Rafid, S.H

This article have

0 Comment

Leave a Comment