
PESANTREN IBNU SYAM – Hari Jum’at, 11 Juli 2025, pukul 20.00 WIB, pelantikan pengurus Organisasi Santri Ibnu Syam (OSIS) periode tahun 2025/2026 dilaksanakan. Dalam hal ini Dr. Slamet selaku Pimpinan Pesantren Ibnu Syam menyampaikan ucapan selamat kepada pengurus OSIS yang terpilih. Sebagaimana berikut ini:
“Selamat mengemban amanah yang mulia. Karena amanah ini merupakan amanah yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan dan titipkan kepada kalian. Dan kalianlah yang terpilih untuk mengemban amanah sebagai pelopor dan suri tauladan buat seluruh santri Pesantren Ibnu Syam,” ucap Dr. Slamet kepada seluruh pengurus OSIS.
Dr. Slamet mengajak seluruh pengurus OSIS agar mencamkan mutu yang sering diutarakan oleh para guru di pesantren yaitu “Siap memimpin dan siap dipimpin.“
Beliau menjelaskan bahwa pemimpin maupun rakyat keduanya sama-sama dipilih. Setiap santri harus siap memimpin dan dipimpin. Langkah selanjutnya, ketika menjadi rakyat, harus siap dipimpin, dan sebaliknya saat menjadi pemimpin, harus siap melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Alquran surat An-Nisa’ ayat 58:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ
Artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk melaksanakan amanah pada porsi dan tempatnya,”
Di Pesantren Ibnu Syam ada Organisasi Santri Ibnu Syam, ini adalah wadah untuk para santri latihan leadership (kepemimpinan) yaitu untuk mempersiapkan diri mereka menjadi pemimpin-pemimpin umat di masa yang akan datang.
Tugas apapun yang mereka kerjakan sewaktu menjadi santri, itu akan berpengaruh besar untuk masa depan mereka di masa yang akan datang. Di sini Dr. Slamet menjelaskan, bahwa ketika para santri diberikan amanah dan tugas, maka sudah semestinya dilakukan dengan itqon (profesional), agar mendapatkan cintanya Allah subhanahu wa ta’ala.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara itqan (professional),“ (HR Al-Baihaqi).
Jika Allah subhanahu wa ta’ala sudah mencintainya, maka kebahagiaan hidup mereka sudah dijamin oleh-Nya. Dr. Slamet menyampaikan pesan,
“Manfaatkan momen kalian menjadi pengurus ini dengan sebaik-baiknya, lakukan yang terbaik untuk OSIS, lakukan yang terbaik untuk Pesantren Ibnu Syam. Dan apa yang kalian lakukan itu akan kembali kepada kalian,” pesan hangat Dr. Slamet kepada pengurus OSIS.
Anak-anakku semuanya jangan pernah meremehkan apapun yang kalian lakukan, sekecil apapun kebaikan yang kalian lakukan saat ini ketika menjadi santri. Karena buahnya akan kalian petik ketika kalian nanti dewasa, ketika kalian terjun di masyarakat,” lanjut Dr. Slamet dalam pesannya.
Beliau juga menjelaskan bahwa tugas pengurus OSIS adalah menerjemahkan visi dan misi Pesantren Ibnu Syam, mendukung program para Manajer dan Direktur, untuk merealisasikan visi besar Pesantren Ibnu Syam yaitu terwujudnya penghafal Alquran yang fasih dan rasikh.
Fasih secara bacaan, kuat secara hafalan dan rasikh secara keilmuan. Fasih dan rasikh tersebut diterjemahkan dalam tujuh karakter insan Ibnu Syam.
Dr. Slamet menjelaskan bahwa, para santri harus menjadi ahli, tidak cukup hanya membaca Alquran dan hadits. Tetapi, santri juga harus bisa menyimpulkan hukum Alquran dan hadits. Harus tahu perbedaan mana yang mutlak mana yang muqayyad, mana yang ‘amm dan khash, dan terjemahan dari fasih dan rasikh. Demikianlah, itu semua tanggung jawab kita bersama untuk mencapai visi Pesantren Ibnu Syam.
Dr. Slamet menerangkan, jika santri mau manfaat dan berkah ilmunya, mereka wajib menghormati dan memuliakan para gurunya, agar bahagia, dan tidak boleh menyakiti hatinya. Hal ini karena guru merekalah yang berusaha mengajarkan dan mendidik para santri untuk memiliki tujuh karakter insan Ibnu Syam.
|| BACA JUGA : Doa Pak Walikota untuk Pesantren Ibnu Syam saat Khutbatul Iftitah Tahun Ajaran 2025/2026
Pengurus OSIS adalah sosok yang menjadi suri tauladan dalam sisi akhlak bagi para santri lainnya. Sesuai dengan karakter insan Ibnu Syam nomor satu yaitu berakhlakul karimah, maka ini menjadi pondasi untuk mencapai karakter berikutnya. Maka, jadilah contoh yang baik untuk para santri, karena pengurus OSIS adalah orang-orang pilihan.
Ketika para santri dipimpin, jangan menjadi rakyat yang tidak patuh kepada pemimpinnya. Jika sekarang mereka tidak patuh, bisa jadi ketika mereka menjadi pengurus OSIS mereka juga tidak akan patuh. Maka tanamkan pada diri yaitu harus siap ketika memimpin dan siap ketika dipimpin.
Dua hal ini harus berjalan beriringan, pemimpin yang harus memberikan suri tauladan yang baik, dan yang dipimpinnya harus patuh. Kesuksesan program pengurus OSIS adalah ketika seluruh santri Ibnu Syam melaksanakan tata tertib yang ada di Pesantren Ibnu Syam dengan penuh kesadaran, ketulusan hati, dan tanpa paksaan.
Menentukan tujuan yang hendak dicapai.
Kemudian membuat rencana atau strateginya seperti apa untuk bisa tercapai tujuan di atas.
Selanjutnya merealisasikan konsep yang telah disusun sebelumnya.
Membuat evaluasi, apakah dari konsep yang dibuat sudah terealisasikan atau belum. Jika belum, maka konsepnya yang harus dibenahi kembali, agar mudah diterapkan menuju tujuan yang diharapkan.
Dr. Slamet memberikan ibarat, OSIS itu sebagai nahkoda, semua para santri berada di satu perahu untuk menuju kepada pulau keberhasilan. Jika nahkodanya bagus dalam mengendalikan perahu tersebut, tapi santri lainnya ada yang membocori perahu itu, maka semuanya akan tenggelam, naudzubillah.
Demikianlah, sebagus apapun program yang dibuat pengurus OSIS, jika para santrinya tidak medukung, tidak akan sukses. Namun sebaliknya, jika ingin sukses, maka semuanya harus saling dukung, agar mencapai cita-cita mulia mereka yaitu menjadi penghafal Alquran yang fasih dan rasikh.
Dr. Slamet mengatakan, bahwa setan itu adalah sifat yang menjauhkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, baik dari kalangan jin maupun manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Alquran surat An-Nas ayat 6:
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِࣖ
Artinya: “Dari (golongan) jin dan manusia.”
Jika ada santri yang merusak peraturan pesantren, bisa jadi dia adalah setan dalam bentuk manusia. Karena dia menjauhkan orang lain dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Sifatnya syaiton tapi bentuknya manusia. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjaga kita semua, baik dari segi sikap maupun perbuatan, dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala membimbing kita selalu ke arah yang diridhoi-Nya.
Perlu diingat, sebagaimana yang disampaikan Dr. Slamet saat sambutannya tersebut, ia menyebutkan bahwa jika hanya satu orang yang berjalan menuju kebaikan, maka setan mudah menggodanya, tapi sebaliknya, jika bersama-sama menjalankan kebaikannya, setan juga akan sulit menggodanya.
Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Ringan jika melakukannya bersama-sama. Mari kita bersama-sama menjalankan peran dan tugasnya masing-masing untuk merealisasikan visi dan misi besar Pesantren Ibnu Syam yaitu Terlahirnya Para Penghafal Alquran yang Fasih dan Rasikh.
Wallohu A’lam
Oleh Dewi Anggraeni / Tim Media Pesantren Ibnu Syam
Editor : Muhammad Isra Rafid, S.H
Leave a Comment